Pada hari Jumat, Jurnal Nasional diantar ke sebuah masjid di
kawasan kaum muslim di Beijing ibuikota China . Masjid yang sekilas mirip
klenteng itu terletak di jalan Ox
Street . Masjid yang tampak jelas
dari luar itu ternyata cukup terkenal. Sederet mobil parkir di pinggir jalan
yang luas dengan penjagaan polisi lumayan menyolok.
Sama seperti di Indonesia , tampak beberapa pengemis
berjejer di pinggir jalan meminta sedekah. Saya beserta rombongan dari Indonesia masuk ke kawasan masjid itu dan tampak
orang-orang mulai berkumpul dan banyak diantara mereka bukan keturunan China .
Kami mencari tempat wudhu dan awalnya agak bingung dimana
tempatnya. Kemudian seorang pengurus masjid berbaju putih ala China lengan panjang berteriak-teriak "Indonesia assalamualaikum, Indonesia
!". Rupanya lelaki kurus tinggi itu sedang menunjukkan tempat mengambil
wudhu sambil membentangkan tangan ke arah kiri.
Di tempat wudhu, tampak orang duduk menghadap keran air.
Berbeda dengan orang Indonesia
yang mengambil wudhu dengan berdiri, di masjid itu, orang berwudhu sambil
duduk. Mula-mula mereka melepas sepatu dan kaus kaki, kemudian dilanjutkan
mengambil wudhu.
Usai wudhu, mereka mengelap kaki dengan handuk yang sudah
disiapkan pihak masjid. Setelah mengenakan sepatu lagi, mereka bergegas menuju
masjid.
Ketika kami memasuki masjid, tampak kursi-kursi
berderet di sisi kanan dan kiri. Kursi tersebut disediakan untuk para orang tua
yang sudah tidak mampu duduk di lantai lagi.
Khotib tampak sedang berkhutbah dengan bahasa China . Banyak
dari jamaah non China
yang tampaknya tidak paham dengan isi khutbah malah sibuk mengambil foto dengan
handphone.
Khutbah kedua dilanjutkan dalam bahasa Arab. Buat kami dari Indonesia ,
sekali lagi kurang paham dengan isi khutbah, tapi tetap khusuk
mendengarkan. Dengan penuh semangat, khotib yang masih muda itu,
membacakan doa penutup. Setelah itu baru jamaah sholat Jum'at.
Selesai sholat, kami berjalan-jalan di sekeliling masjid
yang tampak asri meski dibangun dengan sederhana. Di putaran masjid, banyak
restoran-restoran islam yang menawarkan berbagai menu makanan halal.
Kebanyakan resep makanan berasal dari Xin Jian , China
bagian barat yang neniliki komunitas Islam cukup banyak. Makanan-makanan mereka
terkanal enak karena dibumbui dengan banyak rempah-rempah.
Di China, ada beberapa agama yang berkembang yakni Islam,
Protestan, Katholik, Taoisme, dan Budha. Data resmi menyebutkan kaum muslimin
di negara itu mencapai 22 juta jiwa sebagian besar berada di Xinjiang, Ningxia , Gansu dan Qinghai . Tapi data tak
resmi menyebutkan Islam dianut kedua terbesar setelah atheisme.
Rihad Wiranto Maret 2o12