Friday, December 14, 2012

Jumatan di Beijing


China memasuki musim semi ketika saya berkunjung ke negara itu Maret lalu. Udara siang hari sekitar 15 derajat Celcius cukup sejuk bagi orang China, tapi nasih terasa menggigil buat orang yang sehari-hari di Jakarta yang panas. Apalagi angin dingin sering bertiup tiba-tiba membuat udara mendadak dingin sekali.

Pada hari Jumat, Jurnal Nasional diantar ke sebuah masjid di kawasan kaum muslim di Beijing ibuikota  China. Masjid yang sekilas mirip klenteng itu terletak di jalan  Ox Street.  Masjid yang  tampak jelas  dari luar itu ternyata cukup terkenal. Sederet mobil parkir di pinggir jalan yang luas dengan penjagaan polisi lumayan menyolok.

Sama seperti di Indonesia, tampak beberapa pengemis berjejer di pinggir jalan meminta sedekah. Saya beserta rombongan dari Indonesia masuk ke kawasan masjid itu dan tampak orang-orang mulai berkumpul dan banyak diantara mereka bukan keturunan China.

Kami mencari tempat wudhu dan awalnya agak bingung dimana tempatnya. Kemudian seorang pengurus masjid berbaju putih ala China lengan panjang berteriak-teriak "Indonesia assalamualaikum, Indonesia !". Rupanya lelaki kurus tinggi itu sedang menunjukkan tempat mengambil wudhu sambil membentangkan tangan ke arah kiri. 

Di tempat wudhu, tampak orang duduk menghadap keran air. Berbeda dengan orang Indonesia yang mengambil wudhu dengan berdiri, di masjid itu, orang berwudhu sambil duduk. Mula-mula mereka melepas sepatu dan kaus kaki, kemudian dilanjutkan mengambil wudhu. 

Usai wudhu, mereka mengelap kaki dengan handuk yang sudah disiapkan pihak masjid. Setelah mengenakan sepatu lagi, mereka bergegas menuju masjid. 

Ketika kami memasuki masjid, tampak  kursi-kursi berderet di sisi kanan dan kiri. Kursi tersebut disediakan untuk para orang tua yang sudah tidak mampu duduk di lantai lagi. 

Khotib tampak sedang berkhutbah dengan bahasa China. Banyak dari jamaah non China yang tampaknya tidak paham dengan isi khutbah malah sibuk mengambil foto dengan handphone.

Khutbah kedua dilanjutkan dalam bahasa Arab. Buat kami dari Indonesia, sekali lagi kurang paham dengan isi khutbah, tapi tetap khusuk mendengarkan.  Dengan penuh semangat, khotib yang masih muda itu, membacakan doa penutup. Setelah itu baru jamaah sholat Jum'at. 

Selesai sholat, kami berjalan-jalan di sekeliling masjid yang tampak asri meski dibangun dengan sederhana. Di putaran masjid, banyak restoran-restoran islam yang menawarkan berbagai menu makanan halal. 

Kebanyakan resep makanan berasal dari Xin Jian, China bagian barat yang neniliki komunitas Islam cukup banyak. Makanan-makanan mereka terkanal enak karena dibumbui dengan banyak rempah-rempah.

Di China, ada beberapa agama yang berkembang yakni Islam, Protestan, Katholik, Taoisme, dan Budha. Data resmi menyebutkan kaum muslimin di negara itu mencapai 22 juta jiwa sebagian besar berada di Xinjiang, Ningxia, Gansu dan Qinghai. Tapi data tak resmi menyebutkan Islam dianut kedua terbesar setelah atheisme.
Rihad Wiranto Maret 2o12

No comments:

Post a Comment