Wednesday, December 11, 2013

Menonton Gamelan di Washington



Terasa sangat mengharukan, saat penulis melihat betapa antusiasnya para pengunjung di pagelaran Rumah Budaya Indonesia di Washington DC, Amerika akhir pekan lalu. Pagelaran kesenian selalu penuh. Bahkan masyarakat Amerika bersedia antre untuk masuk ruang pertunjukan satu jam sebelum acara dimulai. Bukan hanya gamelan, seni kulintang, tari Sumatera Barat dan pencak silat juga dihadirkan di sana.

Cukup mengejutkan, data dari KBRI di Washington menyebutkan ada 120 kelompok gamelan di negara itu. Mereka berbasis di berbagai universitas dengan peserta mahasiswa, dosen dan masyarakat lain. Mereka mengadakan latihan rutin setiap pekan  dengan guru baik orang Indonesia atau warga Amerika sendiri. Jumlah itu akan bertambah hingga 400 kelompok, jika dihitung mereka yang tidak terlalu aktif latihan.

Bahkan banyak warga Amerika yang bisa membuat gamelan. Contohnya Tyler Yamin dari California, 25 tahun yang bisa bisa membuat gender gamelan Bali. Dia juga menjual gamelan itu ke berbagai kalangan di Amerika.

Gamelan juga bisa dipakai untuk seni instalasi. Aaron Taylor Kuffner, 39 tahun,  mengembangkan instalasi gamelan yang bisa dipakai di ruang tamu, ruang spa, kafe dan sebagainya. Gamelan karya Aaron bisa berbunyi sendiri tanpa penabuh karena dijalankan dengan robot. Salah satu karya seni instalasinya di Hong Kong bahkan dihargai Rp1,3 miliar.

Beberapa orang warga Amerika sangat serius mengembangkan gamelan di sana.
Pakar gamelan Bali,  Andrew Clay McGraw, 39 tahun ini adalah asisten dosen di University of Richmond yang mendapat penghargaan dari pemerintah Indonesia. Ia dianggap berjasa mengembangkan gamelan di negeri Paman Sam.

Ada pakar gamelan yang sangat terkenal di Amerika, tak lain Profesor Sumarsam, dosen di Wesleyan University, Connecticut,  yang mengajar gamelan Jawa sejak 1972. Ia juga mendapat penghargaan dari pemerintah Indonesia atas jasa-jasanya.

Warga Amerika melihat gamelan memiliki banyak dimensi selain musik. Falsafah gamelan juga sangat dalam dan terkait dengan kebudayaan Indonesia yang luhur.

Melalui gamelan hubungan antar warga kedua negara terus terjalin sejak lama. Beberapa warga Amerika masih rajin berkunjung ke Indonesia. Orang Amerika pun masih membeli gamelan langsung dari Jawa atau Bali. Seorang penggemar gamelan  Sunda, Will Peeblis asal California membeli gamelan Sunda lengkap seharga US$6 ribu atau sekitar Rp65 juta sejak sepuluh tahun lalu. Saat ini kabarnya, harga gamelan Jawa di Bantul sudah mencapai Rp250 juta satu set.

Hubungan budaya ini relatif tidak terpengaruh dengan hiruk pikuk politik. Warga negara antar dua negara saling belajar satu sama lain menciptakan hubungan harmonis, mampu menenggelamkan perbedaan diantara keduanya.

Saat ini, Indonesia berencana memiliki Rumah Budaya di sembilan negara seperti yang dipelopori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan antara lain Perancis, Belanda, Jepang, Singapura, dan Amerika Serikat. Meski terbilang terlambat, tetapi usaha ini sangatlah positif. Ini adalah ikhtiar yang sangat mulia namun tidak bisa dilakukan secara gegabah.

Rumah budaya pada hakekatntya bukan rumah dalam bentuk fisik. Meski untuk sebuah rumah budaya memerlukan tempat atau lokasi tertentu, tapi memiliki arti lebih dari itu. Lebih dari fisik, rumah budaya merupakan kawasan dimana manusia berinteraksi satu sama lain menciptakan saling pengertian dan pemahaman satu sama lain.

Itu artinya, tidak akan ada artinya jika rumah budaya nantinya kosong tanpa kegiatan. Setelah adanya rumah budaya, maka kegiatan harus terus dilaksanakan secara terjadwal. Diperlukan kerjasama yang sangat  intens antara berbagai kementerian seperti Kemendikbud, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pemerintah daerah, swasta,  serta KBRI dimana rumah budaya didirikan.

Pemerintah daerah bisa didorong untuk ikut memasok seniman dan kebudayaan untuk dipamerkan di rumah budaya  yang ada di negara lain. Keterlibatan swasta tak bisa diremehkan bahkan perlu diajak serius menangani program ini, mengingat biaya yang dibutuhkan tidak sedikit.

Keterlibatan berbagai unsur budaya sangat diperlukan, bukan hanya gamelan. Pada hakekatnya Indonesia bukan hanya gamelan atau angklung. Masih banyak lagi kesenian yang bertebaran di Indonesia. Perlu penggalian budaya Indonesia agar keberagaman makin terasa sebagai salah satu ciri kekayaan budaya di Tanah Air.

Yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana agar seni budaya Indonesia berkembang di Tanah Air sendiri. Kurikulum pendidikan yang cenderung “menomorduakan” pendidikan kebudayaan harus diputar balik. Budaya Indonesia yang mengedepankan harmoni, sopan-santun, menghormati orang tua, dan sebagainya banyak tertanam dalam nilai-nilai kesenian yang kita punyai. Tapi mungkin sangat sedikit, orang tua, guru, atau tokoh masyarakat yang mengajarkannya kepada generasi muda.  

Masalahnya adalah pada kemampuan beradaptasi dengan perkembangan jaman. Pada seni wayang, misalnya, meski menimbulkan kontroversi, adaptasinya terhadap dunia hiburan telah membantu kesenian ini bertahan di tengah majunya industri hiburan saat ini.

Wayang telah bergabung dengan seni lawak, musik modern, dan unsur lain seperti sinar lampu dan seni artistik lain. Dengan demikian, generasi yang lebih muda bisa menerimanya.  Jadi diperlukan inovasi terus menerus dari para seniman untuk menjaga seni budaya yang kita miliki agar tidak tergerus dengan gaya hidup impor.


Friday, December 14, 2012

Jumatan di Beijing


China memasuki musim semi ketika saya berkunjung ke negara itu Maret lalu. Udara siang hari sekitar 15 derajat Celcius cukup sejuk bagi orang China, tapi nasih terasa menggigil buat orang yang sehari-hari di Jakarta yang panas. Apalagi angin dingin sering bertiup tiba-tiba membuat udara mendadak dingin sekali.

Pada hari Jumat, Jurnal Nasional diantar ke sebuah masjid di kawasan kaum muslim di Beijing ibuikota  China. Masjid yang sekilas mirip klenteng itu terletak di jalan  Ox Street.  Masjid yang  tampak jelas  dari luar itu ternyata cukup terkenal. Sederet mobil parkir di pinggir jalan yang luas dengan penjagaan polisi lumayan menyolok.

Sama seperti di Indonesia, tampak beberapa pengemis berjejer di pinggir jalan meminta sedekah. Saya beserta rombongan dari Indonesia masuk ke kawasan masjid itu dan tampak orang-orang mulai berkumpul dan banyak diantara mereka bukan keturunan China.

Kami mencari tempat wudhu dan awalnya agak bingung dimana tempatnya. Kemudian seorang pengurus masjid berbaju putih ala China lengan panjang berteriak-teriak "Indonesia assalamualaikum, Indonesia !". Rupanya lelaki kurus tinggi itu sedang menunjukkan tempat mengambil wudhu sambil membentangkan tangan ke arah kiri. 

Di tempat wudhu, tampak orang duduk menghadap keran air. Berbeda dengan orang Indonesia yang mengambil wudhu dengan berdiri, di masjid itu, orang berwudhu sambil duduk. Mula-mula mereka melepas sepatu dan kaus kaki, kemudian dilanjutkan mengambil wudhu. 

Usai wudhu, mereka mengelap kaki dengan handuk yang sudah disiapkan pihak masjid. Setelah mengenakan sepatu lagi, mereka bergegas menuju masjid. 

Ketika kami memasuki masjid, tampak  kursi-kursi berderet di sisi kanan dan kiri. Kursi tersebut disediakan untuk para orang tua yang sudah tidak mampu duduk di lantai lagi. 

Khotib tampak sedang berkhutbah dengan bahasa China. Banyak dari jamaah non China yang tampaknya tidak paham dengan isi khutbah malah sibuk mengambil foto dengan handphone.

Khutbah kedua dilanjutkan dalam bahasa Arab. Buat kami dari Indonesia, sekali lagi kurang paham dengan isi khutbah, tapi tetap khusuk mendengarkan.  Dengan penuh semangat, khotib yang masih muda itu, membacakan doa penutup. Setelah itu baru jamaah sholat Jum'at. 

Selesai sholat, kami berjalan-jalan di sekeliling masjid yang tampak asri meski dibangun dengan sederhana. Di putaran masjid, banyak restoran-restoran islam yang menawarkan berbagai menu makanan halal. 

Kebanyakan resep makanan berasal dari Xin Jian, China bagian barat yang neniliki komunitas Islam cukup banyak. Makanan-makanan mereka terkanal enak karena dibumbui dengan banyak rempah-rempah.

Di China, ada beberapa agama yang berkembang yakni Islam, Protestan, Katholik, Taoisme, dan Budha. Data resmi menyebutkan kaum muslimin di negara itu mencapai 22 juta jiwa sebagian besar berada di Xinjiang, Ningxia, Gansu dan Qinghai. Tapi data tak resmi menyebutkan Islam dianut kedua terbesar setelah atheisme.
Rihad Wiranto Maret 2o12