Terasa sangat mengharukan, saat penulis melihat betapa
antusiasnya para pengunjung di pagelaran Rumah Budaya Indonesia di Washington
DC, Amerika akhir pekan lalu. Pagelaran kesenian selalu penuh. Bahkan
masyarakat Amerika bersedia antre untuk masuk ruang pertunjukan satu jam
sebelum acara dimulai. Bukan hanya gamelan, seni kulintang, tari Sumatera Barat
dan pencak silat juga dihadirkan di sana .
Cukup mengejutkan, data dari KBRI di Washington menyebutkan ada
120 kelompok gamelan di negara itu. Mereka berbasis di berbagai universitas
dengan peserta mahasiswa, dosen dan masyarakat lain. Mereka mengadakan latihan
rutin setiap pekan dengan guru baik
orang Indonesia
atau warga Amerika sendiri. Jumlah itu akan bertambah hingga 400 kelompok, jika
dihitung mereka yang tidak terlalu aktif latihan.
Bahkan banyak warga Amerika yang bisa membuat gamelan.
Contohnya Tyler Yamin dari California , 25
tahun yang bisa bisa membuat gender gamelan Bali .
Dia juga menjual gamelan itu ke berbagai kalangan di Amerika.
Gamelan juga bisa dipakai untuk seni instalasi. Aaron Taylor Kuffner, 39 tahun, mengembangkan instalasi gamelan yang bisa dipakai di ruang tamu, ruang spa, kafe dan sebagainya. Gamelan karya Aaron bisa berbunyi sendiri tanpa penabuh karena dijalankan dengan robot. Salah satu karya seni instalasinya diHong Kong bahkan dihargai
Rp1,3 miliar.
Gamelan juga bisa dipakai untuk seni instalasi. Aaron Taylor Kuffner, 39 tahun, mengembangkan instalasi gamelan yang bisa dipakai di ruang tamu, ruang spa, kafe dan sebagainya. Gamelan karya Aaron bisa berbunyi sendiri tanpa penabuh karena dijalankan dengan robot. Salah satu karya seni instalasinya di
Beberapa orang warga Amerika sangat serius mengembangkan
gamelan di sana .
Pakar gamelan Bali, Andrew Clay McGraw, 39 tahun ini adalah asisten dosen diUniversity
of Richmond yang mendapat penghargaan
dari pemerintah Indonesia .
Ia dianggap berjasa mengembangkan gamelan di negeri Paman Sam.
Pakar gamelan Bali, Andrew Clay McGraw, 39 tahun ini adalah asisten dosen di
Warga Amerika melihat gamelan memiliki banyak dimensi selain
musik. Falsafah gamelan juga sangat dalam dan terkait dengan kebudayaan Indonesia
yang luhur.
Melalui gamelan hubungan antar warga kedua negara terus
terjalin sejak lama. Beberapa warga Amerika masih rajin berkunjung ke Indonesia .
Orang Amerika pun masih membeli gamelan langsung dari Jawa atau Bali . Seorang penggemar gamelan Sunda, Will Peeblis
asal California
membeli gamelan Sunda lengkap seharga US$6 ribu atau sekitar Rp65 juta sejak
sepuluh tahun lalu. Saat ini kabarnya, harga gamelan Jawa di Bantul sudah
mencapai Rp250 juta satu set.
Hubungan budaya ini relatif tidak terpengaruh dengan hiruk
pikuk politik. Warga negara antar dua negara saling belajar satu sama lain
menciptakan hubungan harmonis, mampu menenggelamkan perbedaan diantara
keduanya.
Saat ini, Indonesia
berencana memiliki Rumah Budaya di sembilan negara seperti yang dipelopori
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan antara lain Perancis, Belanda, Jepang,
Singapura, dan Amerika Serikat. Meski terbilang terlambat, tetapi usaha ini
sangatlah positif. Ini adalah ikhtiar yang sangat mulia namun tidak bisa
dilakukan secara gegabah.
Rumah budaya pada hakekatntya bukan rumah dalam bentuk
fisik. Meski untuk sebuah rumah budaya memerlukan tempat atau lokasi tertentu,
tapi memiliki arti lebih dari itu. Lebih dari fisik, rumah budaya merupakan
kawasan dimana manusia berinteraksi satu sama lain menciptakan saling
pengertian dan pemahaman satu sama lain.
Itu artinya, tidak akan ada artinya jika rumah budaya
nantinya kosong tanpa kegiatan. Setelah adanya rumah budaya, maka kegiatan
harus terus dilaksanakan secara terjadwal. Diperlukan kerjasama yang
sangat intens antara berbagai
kementerian seperti Kemendikbud, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,
pemerintah daerah, swasta, serta KBRI
dimana rumah budaya didirikan.
Pemerintah daerah bisa didorong untuk ikut memasok seniman
dan kebudayaan untuk dipamerkan di rumah budaya yang ada di negara lain. Keterlibatan swasta
tak bisa diremehkan bahkan perlu diajak serius menangani program ini, mengingat
biaya yang dibutuhkan tidak sedikit.
Keterlibatan berbagai unsur budaya sangat diperlukan, bukan
hanya gamelan. Pada hakekatnya Indonesia
bukan hanya gamelan atau angklung. Masih banyak lagi kesenian yang bertebaran
di Indonesia .
Perlu penggalian budaya Indonesia
agar keberagaman makin terasa sebagai salah satu ciri kekayaan budaya di Tanah
Air.
Yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana agar seni
budaya Indonesia
berkembang di Tanah Air sendiri. Kurikulum pendidikan yang cenderung
“menomorduakan” pendidikan kebudayaan harus diputar balik. Budaya Indonesia
yang mengedepankan harmoni, sopan-santun, menghormati orang tua, dan sebagainya
banyak tertanam dalam nilai-nilai kesenian yang kita punyai. Tapi mungkin
sangat sedikit, orang tua, guru, atau tokoh masyarakat yang mengajarkannya
kepada generasi muda.
Masalahnya adalah pada kemampuan beradaptasi dengan
perkembangan jaman. Pada seni wayang, misalnya, meski menimbulkan kontroversi,
adaptasinya terhadap dunia hiburan telah membantu kesenian ini bertahan di
tengah majunya industri hiburan saat ini.
Wayang telah bergabung dengan seni lawak, musik modern, dan unsur
lain seperti sinar lampu dan seni artistik lain. Dengan demikian, generasi yang
lebih muda bisa menerimanya. Jadi
diperlukan inovasi terus menerus dari para seniman untuk menjaga seni budaya
yang kita miliki agar tidak tergerus dengan gaya hidup impor.
No comments:
Post a Comment